Fiqih Muamalah

Hukum Dropship dalam Islam

Hukum dropship di dalam Islam. Apakah boleh atau dilarang? Jika Anda belum yakin kebolehannya, yuk dibaca.

Written by Hasnil · 1 min read >
hukum dropship dalam islam

Di masa pandemi ini ada banyak orang yang terdampak penghasilannya. Ada yang dipotong gajinya, ada yang dirumahkan tanpa status yang jelas dan ada yang sudah jelas-jelas di-PHK. Masih mending kalau Anda di-PHK tapi dengan pesangon. Kenyataannya tidak sedikit yang di-PHK tanpa pesangon.

Salah satu solusi untuk tetap berdaya adalah dengan berbisnis. Karena modal yang terbatas, /dropship/ menjadi salah satu pilihan. Saya pun membuat peluang usaha dropship di salah satu bisnis saya, www.ekafarm.com. Lalu bagaimana hukumnya di dalam Islam?

Saya bantu mencarikan beberapa referensi dari Ustadz atau Ulama untuk Anda. Saya yakin setelah paham hukumnya menjadi bermanfaat dan membuat hati tenang. Silahkan ambil salah satu pilihan atau pendapat dari mereka. Jika ada orang lain yang berbeda pilihan, hormati saja karena hanya persoalan khilafiyah pada furu’ (cabang), bukan ushul (pokok).

Proses dropship adalah ketika ada pesanan masuk ke dropshiper, lalu dropshiper memesankannya kepada pemilik produk. Dari ilustrasi itu berarti dropshiper belum mempunyai produk tersebut. Sistem bisnis dropship diperbolehkan oleh Islam, tentu dengan syarat produknya halal dan jelas.

Dropshiper bisa berperan dua, yaitu sebagai agen dimana dropshiper mendapatkan ujroh (fee) atas jasa mencarikan konsumen. Upah tersebut didapat dari suplier, baik dalam bentuk nominal maupun prosentase. Atau cara memberikan upahnya adalah selisih atau kelebihan (margin) adalah untuk dropshiper.

Contoh upah dalam bentuk margin adalah ketika pemilik barang mengatakan agar menjual barang ini dengan harga Rp 50.000, lalu kelebihannya untuk dropshiper. Lalu dropshiper menjual dengan harga Rp 60.000. Maka ujroh atau fee dropshiper adalah Rp 10.000 itu.

Kedua cara menentukan upah ini boleh, asalkan sudah ada akad yang jelas. Mana yang akan dipakai untuk penentuan dan pemberian upahnya.

Pilihan peran berikutnya adalah dropshiper sebagai penjual. Pembeli memesan barang kepada dropshiper. Lalu dropshiper membeli kepada pemilik barang. Kemudian dropshiper menyerahkannya kepada pembeli. Cara ini berarti dropshiper sebagai penjual dan pemilik barang sebagai suplier.

Opsi yang kedua ini disebut dengan jual beli salam atau tidak tunai. Sebagai penjual, dropshiper berhak menentukan margin. Bedanya pada opsi kedua ini resiko barang ada pada dropshiper. Sedangkan pada opsi pertama resiko barang ada di pemilik barang.

Jadi dropship tidak dilarang di dalam Islam. Silahkan perdengarkan penjelasan masing-masing ustadz yang sudah kami lampirkan di artikel ini.

1. Dr. Oni Sahroni, MA.

2. Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

3. Ustadz Ammi Nur Baits

4. Buya Yahya

5. Dr. Erwandi Tarmizi, MA

6. Abdul Somad, Lc

Bagikan artikel tentang hukum dropship di dalam Islam yuk! Sehingga semakin banyak yang paham terhadap kebolehan dropship. Lapangan kerja dan peluang bisnis semakin terbuka lebar.

Written by Hasnil
Full-timer Father | Part-timer Entrepreneur | Muslim Seorang ayah yang terus belajar untuk menjadi ayah dan sekaligus suami yang baik. Saya suka bisnis dan diskusi tentang bisnis bersama teman-teman saya. Selalu punya ide-ide baru dan berusaha menyiapkan eksekusinya. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *